"Bagi ku Hujan bukan hanya rintikan air yang membasahi bumi , bukan saja karunia Tuhan yang memberi kesuburan dan menyejukan , tapi juga lantunan musik alam yang menenangkan , dan mesin waktu yang membawa kenangan"
Aku mulai membuka lembar-demi lembar buku tulis yang kusulap menjadi sebuah buku harian . Kembali membaca banyak cerita yang mungkin dulu menyisakan tawa , kenangan bahagia , atau sekedar kesedihan kecil dan rasa kehilangan yang merubahnya menjadi rasa panas di sudut mata lalu jatuh menjadi butiran air yang hangat.
Kali ini aku mulai sering mengamati , berbeda dengan beberapa tahun lalu saat aku lebih suka ikut dalam sebuah pergolakan cerita atau sebagai komentator atau sekedar "tempat sampah" tempat mereka meluapkan rasa kesalnya amarahnya sekedar meminta saran-saran kecil , namun anehnya tak semua kebaikan suatu nasihat akan dipandang baik atau selamanya baik .
Bagiku kehidupan ini bagai permainan bianglala yang akan melambung berputar dan saat diatas semua akan terasa indah dan bintang terasa begitu dekat dengan jangkauan namun saat berada di bawah akan semakin indah karena dapat melihat keadaan disekitar dengan sangat jelas.
Kemudian pikiranku kembali melayang kepada sebuah cerita yang aku lihat di sebuah tayangan televisi , mungkin itu cerita mini seri tv , atau mungkin hanya sensasi para public figur yang piawai berperan . Menyaksikan rangkaian cerita indah antara dua anak manusia yang notabene saling mencinta , melewati waktu bersama dan akirnya semua orang akan berfikir bahwa cerita yang indah akan berakir dengan kebahagiaan .
Dulu aku pun berfikir sama , kisah-kisah indah dalam kehidupan , rangkaian cerita yang seakan berjalan sempurna , akan berakir dengan kebahagiaan .
namun ternyata akirnya aku kehilangan sosok yang begitu aku inginkan saat itu , air mata ku jatuh namun raganya tak lagi bergeming dari tidur panjang ,
"mengingat kembali senyumannya , mengingat lagi cerita kami , kenangan dan barang-barang kecil yang begitu membekas dalam kisah ini , sesekali ingatanku kembali me-re-call tentang waktu terakir yang kami lalui bersama , tentang dia yang menatapku tajam dan perlahan menghilang dalam waktu"
DIA , telah tertidur pulas
dan aku telah jauh berjalan sendiri , menyusuri jalanan kota rantauku Yogyakarta , dengan senyum dan kisah yang baru , menutup kenangan lama , dan berusaha menghabus detail-detail kecil yang membungkamku dalam waktu .
Hujan kembali menyita ingatanku , dan lagi-lagi aku mendengar suara permainan pianonya dalam bayang ingatanku , dentuman-dentuman yang beradu dengan air yang menetes dan menghantam bumi tiada ampun . Itu hanya kenangan pikirku ,
Lagi aku belajar menyusun puzle impianku dengan seksama , dan hati-hati , aku tulis rangkaian nama yang begitu memenuhi hatiku , mengengamnya dalam pikiranku agar aku tak sedikitpun melupakannya , Astaga aku begitu berharap banyak pada kisah ini ,
"Bagiku kenangan seperti hujan yang pasti akan berhenti jatuh ke bumi , bagiku kenangan adalah genangan air seusai hujan , yang membecekan tanah-tanah tandus menjadi tanah becek terinjak dan akirnya kembali mengering , sesulit apapun kenangan toh kita akan tetap meninggalkannya mau ataupun tidak"
Namun sekuat apapun aku menyusun dan menempelkan puzle dengan sempurna , toh lagi-lagi aku lupa bahwa Tuhan masih ada diantara aku dan rencanaku , lagi-lagi Tuhan masih ada dalam setiap langkahku , dan jalannya hidupku . Tuhan masih berhak penuh menurunkan dan menghentikan hujan kapanpun dia mau , merubah rintikan air embun menjadi badai atau meluapkannya menjadi banjir , untuk sekedar mengairi ladang tandus ataupun untuk melenyapkan susunan puzle dengan air bah.
"Apa alasanmu memutuskan hubungan ini?" tanya nya dengan tatapan nanar ke arahku
"Kita memiliki perbedaan prinsip , kita tak mungkin bersama" jawabku dingin
kemudian hatiku mendebat , mungkinkah aku benar-benar tak menginginkan bersama dengannya , lalu untuk apa aku habisakan waktu selama ini bersamanya ??? Lalu mana mungkin aku akan menghabiskan waktuku bersama dengan orang yang tak aku inginkan ? Lalu apa yang aku inginkan?
Kesetiaan ? ah mana ada kesetiaan di dunia ini , kesetiaan yang terpisah hanya dengan kematian itu hanya ada di cerita dongen , BODOH gumanku dalam hati . Kesetiaan macam apa yang aku inginkan ? Lalu apakah aku setia saat aku masih saja membandingkannya dengan kenanganku ? Kesetiaan seperti apa ? apa yang bisa menahannya untuk hanya mencintaiku di hati dan pikirannya . Bukankah hati dan pikiran itu kebebasannya . Milikku hanyalah raganya yang sekarang siap melingkarkan cincin di jari-jariku.
aku begitu sering menginginkan kata setia dalam ingatanku ?
Namun nyatanya aku tak pernah mendapatkan apapun yang aku inginkan dari sebuah kata Setia . Meski nyatanya hubungan tak akan hanya bertahan dengan cinta dan kesetiaan namun ada campur tangan Tuhan disana , ada ego yang bisa meledak dan merubah cerita menjadi puing kenangan.
Bagaimana aku bisa percaya pada kesetiaan ? Kepada Tuhan-nya saja tak setia , apalagi bagiku mahluk ciptaan tuhan yang tak berarti apapun .
Cerita-demi cerita terlewati seperti lantunan musim yang terus begulir , Panas-Hujan-Hujan-Panas , Kemarau panjang atau banjir bandang.
Hingga aku begitu merasa kesepian dalam rangkaian kisah hujan yang bergulir dengan kemarau . Panas yang berubah jadi mendung atau jatuhnya air ke bumi yang menjadikannya titik-titik kedamaian dan kesuburan menumbuhkan benih-benih baru jadi tanaman baru atau bunga-bunga baru yang memenuhi bumi .
"Aku melihatnya , dia seperti cerminan diriku yang lain"
aku menatapnya dan aku menemukan bagian lain dariku yang tak terjamah atau mungkin ku tinggalkan begitu lama . aku melihatnya begitu sepi , dingin , dan tenang mungkin memang tenang atau mungkin pusaran lumpur yang siap menghisap siapa saja yang mendekatinya , namun bagaimanapun aku siap terhisap dalam pusarannya , bukan hanya sekedar melegakan rasa rinduku namun juga memberi kesempatan untuk melengkapi , mungkin dia bagian puzle ku yang hilang mungkin juga dia akan mempertemukanku dengan puzle yang aku cari selama ini , aku hanya percaya pada intuisiku , untuk bersamanya sekarang atau mungkin untuk selama-lama-lama nya waktu yang ku miliki
mungkin begitu bodohnya atau konyolnya otakku ini mencerna perasaanku ?
untuk sebuah kepercayaan pada intuisi aku rela meninggalkan bagian puzle lain yang telah ku tata rapi dalam deretan ceritaku bersama duniaku yang baru yang kubangun selama ini ,
meninggalkan dunia ku yang baru dan kembali memasuki gerbang duniaku yang lama , aku kunci dan aku sempat berjanji tak akan menyentuhnya lagi.
Jika saja ada yang bertanya padaku mengapa aku bersamanya saat ini .
dengan lantang aku akan menjawab
"karena dia satu-satu nya orang yang bisa memahamiku tanpa aku harus berkata ataupun menanyakan apapun , tanpa aku meminta atau harus bergerak dari posisiku , aku percaya pada intuisiku , selebihnya bukan hanya karena dia melampaui standart minimal yang aku sukai namun juga aku mencintainya diluar akal sehat"
Aku tak pernah berharap banyak dari mencintainya ,
seperti hujan yang tak pernah berharap banyak jika butiran airnya akan dibiaskan menjadi pelangi oleh matahari .
Jika suatu saat aku kehilangan dia ? bukankah aku sempat kehilangan orang yang aku inginkan diwaktu lalu , lalu apa bedanya jika aku kembali kehilangannya untuk suatu saat nanti , toh perasaanku telah kebal dengan rasa kehilangan dan kesendirian , aku telah mati rasa !!!
jika suatu saat dia tak setia ? bukankah aku hanya bisa menyentuh raganya , Hati dan Pikirannya itu miliknya dan Tuhan , bukan menjadi prioritasku untuk mengekang dan menginginkan apa yang bukan menjadi milikku. Bukan hanya dia yang pernah meninggalkanku dengan memilih sosok lain yang lebih baik , aku hanya aku seperti butiran hujan yang akan menghujam bumi , tak lebih dan tak kurang . jika suatu saat aku kembali ditinggalkan dari kata setia olehnya , aku pernah mengalaminya beberapa kali diwaktu lalu , lalu apa bedanya jika sekali lagi kembali aku tak mendapatkan kesetiaan.
jika suatu saat dia tak mau mengakuiku sebagai pendampingnya ? Lalu bukankah aku masih terlalu jauh untuk mendampinginya , sedangkan untuk mendampingi perjalanan hidupku dengan berbagai impian yang panjang saja belum teraih apalagi untuk bermimpi mendampingi . Aku tak ingin sekedar menjadi pendampingnya , aku ingin menjadi patner yang membanggakan , yang menyempurnakan dan mendamaikannya dalam pencarian panjang , hingga dia tak lagi memiliki alasan untuk meninggalkanku atau tak mendampingiku sedetikpun .
"akulah petricor aroma hujan yang tertinggal usai air itu berhenti menghujam bumi , akulah petrichor yang begitu banyak orang menikmatinya tanpa tau namaku . akulah petrichor yang meneruapkan aroma damai dan menyejukan , akulah petrichor mesin waktu yang siap membawamu kemanapun kamu inginkan"
AKU-LAH PETRICHOR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar